Peringatan Hari Pustakawan Dan Sejarahnya

0
24

Jakarta, Malanesianews, – Hari ini Tanggal 7 Juli 2021 diperingati sebagai Hari Pustakawan. Peringatan Hari Pustakawan berbeda dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) meskipun ada kaitan sejarah yang cukup erat. Dikutip dari website Perpustakaan Universitas Airlangga, Perpusnas RI mencanangkan tanggal 7 Juli sebagai Hari Pustakawan sejak tahun 1990.

Sejarah Hari Pustakawan tidak terlepas dari lahirnya Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) sebagai wadah bagi pengembangan para pegiat literasi di tanah air. IPI resmi didirikan dalam Kongres Pustakawan Indonesia yang dilangsungkan di Ciawi, Bogor, tanggal 5-7 Juli 1973. Tujuan dari pendirian IPI adalah untuk meningkatkan profesionalisme pustakawan di Indonesia.

Maka, seperti yang tertulis dalam laman resmi Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara (Pujasintara) Perpusnas RI, tanggal 7 Juli selain diperingati sebagai Hari Pustakawan, juga merupakan hari jadi atau hari lahir IPI.

Sedangkan HUT Perpusnas RI sendiri diperingati setiap tanggal 17 Mei yang juga disebut Hari Buku Nasional. Ditetapkan Hari Buku menjadi Hari Perpustakaan karena pada tanggal tersebut bertepatan dengan peringatan pendirian Perpusnas RI di Jakarta pada 17 Mei 1980.

Pustakawan Ujung Tombak Literasi Menurut data Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) seperti dikutip Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pekanbaru, Indonesia tercatat memiliki tidak kurang dari 164.610 perpustakaan dengan 12.301 tenaga perpustakaan. 34 provinsi di Indonesia punya Dinas Perpustakaan, dengan rincian 491 Kabupaten/Kota dari 514 Kabupaten/Kota di Indonesia sudah memiliki dinas kelembagaan.

Namun, hanya 33 saja yang memiliki kelembagaan perpustakaan sendiri, sementara sisanya masih bergabung dengan dinas lainnya. Menurut Kepala Perpusnas RI, Muhammad Syarif Bando, pustakawan merupakan ujung tombak utama untuk menghidupkan dan mengawal budaya literasi yang salah satunya bertujuan demi mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Pustakawan sebagai elemen melekat dari entitas perpustakaan memiliki peran penting dalam menentukan transfer pengetahuan untuk membentuk budaya literasi,” kata Muhammad Syarif Bando di Jakarta.

“Pustakawan harus mampu mengelaborasikan sumber-sumber informasi sehingga masyarakat memperoleh kecakapan keterampilan yang berguna untuk meningkatkan kesejahteraan,” tambahnya.

“Tanpa kemampuan literasi yang memadai, masyarakat mudah terjerumus pada informasi yang palsu dan menyesatkan,” imbuh Muhammad Syarif Bando.

Maka dari itu, menjadi seorang pustakawan seharusnya memunculkan rasa percaya diri, bukan justru membuat orang rendah diri lantaran profesi ini seringkali dianggap kuno seiring perkembangan teknologi yang amat pesat, demikian yang disampaikan oleh Menteri Sosial RI, Tri Rismaharini.

“Tidak usah merasa rendah diri, kita justru harus yakin dan semakin percaya diri, dengan membaca kita melahirkan anak-anak kreatif dan percaya diri,” ujar Risma dalam Rapat Kerja Nasional Bidang Perpustakaan Tahun 2021 secara virtual di Jakarta, Senin (22/3/2021), dikutip dari Antara.

“Ayo pekerja di bidang pustaka, jangan merasa rendah diri, jangan merasa tidak diperlukan lagi karena adanya elektronika yang menghantui anak-anak ini. Kalau kita bisa manfaatkan teknologi dengan benar, maka akan jadi berguna,” tandas Mensos.