Peringatan Hari Kartini Dan Cara Memaknainya Dikala Pandemi

0
275

Jakarta, Malanesianews, – Peringatan Hari Kartini Tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini bebarengan dengan pandemi covid-19. Biasanya kegiatan menyambut Hari Kartini ramai digelar di berbagai lembaga pemerintah dan swasta.

Namun, hampir 1 tahun terakhir ini mayoritas masyarakat di Indonesia, khususnya di kota-kota besar yang menjadi sentrum penyebaran wabah covid-19, aktivitas luaran masyarakat dibatasi. Jika kegiatan tidak benar-benar penting, kegiatan dilaksanakan di rumah saja.

Hal ini merupakan implementasi protokol kesehatan yang disampaikan Badan Kesehatan Dunia (WHO), yang dikukuhkan dengan kebijakan pemerintah melalui social distancing dan phsysical distancing melalui pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang tertuang di PP No 21 Tahun 2020.

Dalam setahun belakangan ini, aktivitas bekerja, belajar, dan beribadah di rumah telah dilakukan sebagian masyarakat Indonesia. Dalam dua bulan terakhir orangtua di Indonesia telah mendampingi anak-anaknya di kegiatan belajar di rumah (pembelajaran jarak jauh).

Tak sedikit protes bermunculan dari wali murid imbas beban tugas bagi anak didik yang dirasa memberatkan merea. Maklum saja, pembelajaran dalam jaringan (daring), peran orangtua cukup vital. Dalam praktiknya, guru memberi panduan pembelajaran, kemudian siswa mengerjakan tugas yang telah diberikan.

Nah, dalam proses pembelajaran itulah peran orangtua menjadi peng hubung antara guru dan siswa. Di titik inilah, posisi orangtua dalam pembelajaran jarak jauh ini menjadi kunci. Begitu pula dengan bekerja di rumah. Pekerjaan-pekerjaan yang tidak terkait langsung dengan produksi (manufaktur) masih bisa dilakukan bekerja dari jarak jauh.

Di sisi lain tidak sedikit pekerja yang dirumahkan (berstatus karyawan, namun tidak mendapat upah karena dirumahkan), bahkan banyak yang diputus hubungan kerjanya (PHK). Situasi belajar dan bekerja di rumah selama dua bulan terakhir inilah memiliki korelasi yang kuat dengan perempuan.

Dalam konteks inilah, pemaknaan Hari Kartini 2021 cukup terkait di tengah upaya bangsa Indonesia melawan covid-19 ini. Perempuan pendidik Aktivitas belajar dari rumah yang kemungkinan akan berlanjut hingga pergantian semester atau tahun ajaran baru mendatang, telah menjadikan ibu di Indonesia berperan ganda, mengasuh sekaligus sebagai pendidik bagi anakanaknya.

Di tengah ancaman covid-19, ibu-ibu–tidak menutup peran bapak-bapak– telah menjadi garda terdepan dalam kebersamaan dengan anak-anak Indonesia dalam kegiatan belajar di rumah. Ungkapan ‘ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anak’ tidak hanya benar, namun terkonfirmasi secara tepat di saat wabah covid-19 ini.

Peran ibu dalam aktivitas belajar di rumah cukup menentukan sukses tidaknya proses pembelajaran jarak jauh ini. Di sinilah relevansi perempuan Indonesia harus memiliki pengetahuan yang setara dengan kaum laki-laki. Pendidikan untuk semua (education for all) harus senantiasa disuarakan dan diimplementasikan di lapangan.

Karena dalam kenyataannya, secara kuantitatif, kemampuan baca-tulis antara laki-laki dan perempuan masih terjadi gap yang signifikan. Seperti data yang dilansir Badan Pusat Statitisk (BPS) pada 2018, kemampuan melek huruf perempuan usia 15 tahun ke atas (baik di kota dan di desa) sebesar 93,99% jauh di bawah kemampuan melek huruf laki-laki yang mencapai 97,33%.

Maka dalam konteks tersebut, pandangan dan ungkapan sinis kepada perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga dikaitkan dengan argumentasi bahwa perempuan tidak perlu menuntut jenjang pendidikan yang tinggi, tidaklah tepat. Faktanya, peran perempuan (ibu) bagi pendidikan anak cukup penting.

Bagaimana jadinya, di situasi pandemi ini jika ibu-ibu tidak cukup pengetahuan dalam mendampingi anak-anaknya belajar di rumah? Data lainnya juga mengungkapkan mengenai jenjang pendidikan tingkat SLTA ke atas, jumlah perempuan lebih rendah daripada jumlah laki-laki.

Data BPS 2018 mengungkapkan sebanyak 32,53% perempuan yang mengenyam pendidikan SLTA ke atas. Adapun persentase laki-laki yang menyelesaikan pendidikan SLTA ke atas sebanyak 37,70%. *Data tersebut memberi pesan penting bahwa pemerataaan pendidikan bagi perempuan belum sepenuhnya terpenuhi. Tangguh sekaligus rentan Peran perempuan dalam upaya pencegahan penyebaran covid-19 ini pada kenyataannya memiliki posisi signifikan.

Data dari United Nation Population Fund (UNPFA) mengungkapkan dalam penanganan covid-19 secara global ini sebanyak 70% didominasi tenaga kesehatan berjenis kelamin perempuan. Angka tersebut memiliki dua makna sekaligus. Satu sisi menunjukkan peran perempuan dalam penanganan covid-19 cukup signifikan. Namun, di sisi lain, tenaga kesehatan perempuan termasuk kelompok yang rentan atas penularan virus ini.

Di titik lainnya, covid-19 juga telah memberi dampak signifikan bagi perekonomian global. Seperti data yang diungkapkan Michèle Tertilt, ekonom di Universitas Mannheim di Jerman, sebagaimana dikutip BBC Indonesia (13/4), mengungkapkan perempuan lebih banyak terdampak. Tertilt juga melakukan studi di Inggris yang menemukan perempuan 1/3 lebih besar menjadi kelompok rentan, lantaran kebanyakan bekerja di sektor pehotelan dan industri ritel.

Dalam konteks Indonesia, BPJS Ketenagakerjaan dan Kementerian Tenaga Kerja meng ungkapkan per 13 April 2020 sebanyak 2,8 juta pekerja yang terdampak. Rinciannya sebanyak 1,7 juta pekerja formal dirumahkan, kemudian 749,4 ribu pekerja formal di-PHK, 282 ribu pekerja informal usahanya terganggu, serta 100 ribu pekerja migran dipulangkan ke Tanah Air.

Belum ada data pasti mengenai jenis kelamin dari total pekerja yang terdampak imbas covid-19 tersebut. Namun, dalam praktiknya, posisi perempuan menjadi cukup rentan dalam pengaturan keuangan keluarga. Turunnya pendapatan, bahkan hilangnya pendapatan, yang menimpa kepala keluarga (suami) di sebuah keluarga akan menjadi persoalan serius khususnya bagi perempuan. Terkait hal tersebut, berbagai program jaring pengaman sosial (social safe net) yang digulirkan pemerintah harus dipastikan tepat sasaran dan dapat mengurangi beban keuangan keluarga yang terdampak.

Peran unit-unit pemerintahan seperti RT/RW, kelurahan, desa, kecamatan dapat diharapkan sebagai front liner dalam pendataan dan pendistribusian bantuan dari pemerintah. Peringatan Hari Kartini 2021 ini sungguh spesial, khususnya bagi perempuan Indonesia. Peran, tantangan, sekaligus sebagai kelompok yang rentan terdampak covid-19 ini seolah menegaskan peran perempuan cukup signifikan dalam urusan pendidikan, pelayanan kesehatan, tak terkecuali dalam urusan ekonomi domestik di rumah tangga. Selamat Hari Kartini perempuan Indonesia.