Singapura Alami Resesi, Menkeu Waspadai Perkembangan Ekonomi Kuartal II Indonesia

0
363

Jakarta, Malanesianews, –¬†Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, mengungkapkan kabar tidak sedap yang menimpa perekonomian Indonesia di kuartal II-2020. Ekonomi kuartal II akan negatif 4,3% atau lebih dalam dari proyeksi sebelumnya yakni minus 3,8%.

“Kalau resesi yang terjadi di Singapura karena mereka negara sangat tergantung pada international trade dan dengan berbagai langkah melakukan PSBB mereka namanya sirkuit brake, maka seluruh kegiatannya menjadi terhenti ditambah lingkungan globalnya sangat melemah,” tegas Sri Mulyani yang ditemui di Gedung DPR, Rabu (15/7).

Dijelaskan Sri Mulyani, perekonomian dari Singapura bergantung kepada ekonomi global. Karena ekspornya lebih dari 100%.

“Sehingga ekonomi dia kecil maka domestic demand-nya tidak bisa mensubtitusi. Oleh karena itu penurunan dari Singapura sangat besar, karena memang tidak terjadi perdagangan internasional yang selama ini menjadi engine of growth-nya.”

Selain APBN, Sri Mulyani mengatakan penempatan dana di perbankan jadi engine untuk menggenjot ekonomi Indonesia.”Kita tentu waspadai, karena bagaimana pun juga Indonesia engine of growth¬†kita konsumsi, investasi, dan ekspor, hari ini pemerintah menggunakan seluruh mekanisme anggarannya untuk mensubtitusi pelemahan di sisi konsumsi dan di sisi investasi maupun ekspor,” tuturnya.

Sri Mulyani menambahkan, APBN tidak bisa berjalan sendiri, untuk itu pemerintah menggalakkan supaya sektor perbankan segara pulih.

“Makanya kita menggunakan penempatan dana pemerintah di perbankan dengan suku buga rendah, kita meluncurkan kredit yang diberikan jaminan sehingga antara bank dan korporasi terutama UMKM mereka segera pulih kembali, karena itu salah satu darah dari perekonomian, mesinnya supaya bisa jalan lagi,” jelasnya.

Hal ini dilakukan agar mesin pertumbuhan bisa lebih ngebut di kuartal III.

“Jadi konsentrasi APBN jalan, penempatan dana pemerintah di perbankan plus ditambah jaminan untuk menggelindingkan sektor usaha, daerah kita dorong, semuanya kita harapkan bisa menjadi mesin pertumbuhan supaya kuartal III nanti tidak dalam situasi sangat dalam. Kuartal II kan sudah selesai, kita melihat April-Mei sangat dalam, Juni sudah mulai ada normal baru tapi itu masih sangat sedikit, jadi kita mengekspektasikan kuartal III itu kontraksinya seperti minus -3,5% sampai minus 5,1%, titik poinnya kita ada di minus 4,3%, jadi lebih dalam dari yang kita sampaikan -3,8%.”