Peringatan 113 Tahun Hari Kebangkitan Nasional, ” Bangkit! Kita Bangsa Yang Tangguh!”

0
44

Jakarta, Malanesianews, – Hari ini tanggal 20 Mei 2021 diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, yang bertemakan 113 tahun Hari Kebangkitan Nasional adalah “Bangkit! Kita Bangsa yang Tangguh!”.

Dengan tema tersebut, diharapkan dapat menumbuhkan dan menguatkan semangat gotong royong untuk mempercepat pulihnya bangsa dari pandemi Covid-19

Sejarah Penetapan Hari Kebangkitan Nasional merujuk pada tanggal berdirinya organisasi Boedi Oetomo, 20 Mei 1908.

Organisasi Boedi Oetomo

Pada 20 Mei 1908, Dr Wahidin Soedirohoesodo bersama tiga mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) mendirikan organisasi Boedi Oetama.

Ketiga mahasiswa itu adalah Soetomo, Gunawan Mangunkusumo, dan Suraji yang telah lama mengagumi dr Wahidin melalui majalah Retno Dumilak.

Pendirian organisasi ini sekaligus menandai kebangkitan nasional Indonesia. Sebab, sejarah Indonesia sejak saat itu memasuki babak baru, yaitu pergerakan nasional.

Artinya, semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia mulai lahir saat itu.

Sebelum organisasi Boedi Oetomo didirikan, dr Wahidin kerap mencari dana untuk membiayai pelajar-pelajar pandai yang kurang mampu.

Sebab, kondisi masyarakat Indonesia saat itu sebagian besar tidak mampu mendapatkan pendidikan formal dan melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi.

Dana itu berasal dari para bangsawan dan Belanda di Jawa.

Namun, dalam satu pertemuan, Sutomo mengusulkan agar usaha-usaha itu diperluas di luar bidang pendidikan, tetapi juga pertanian, peternakan, perniagaan, industri, dan kesenian.

Untuk mewujudkan cita-cita itu, perlu adanya organisasi. Sutomo dan kawan-kawannya pun menyiapkan pertemuan besar.

Pertemuan yang berasal dari dana pribadi itu akhirnya melahirkan sebuah organisasi bernama Boedi Oetama.

Berasal dari bahasa Melayu, “boedi” berarti kepribadian dan “oetomo” artinya luhur.

Tak butuh waktu lama, organisasi itu langsung disambut secara antusias oleh para pelajar dari berbagai daerah, dengan 10.000 anggota dalam satu tahun.

Melalui Boedi Oetomo, para pemuda melatih dirinya dan menjadi pemimpin dari berbagai organisasi pergerakan kemerdekaan yang lahir kemudian.

Boedi Oetomo kemudian memelopori munculnya organisasi-organisasi pergerakan pada masa selanjutnya, seperti Sarekat Dagang Islam, Indische Partij, Perhimpunan Indonesia dan Muhammadiyah.