Naikan Jumlah Tes Spesimen, BNPB : Jangan Kaget Kasus Positif Corona Naik Minggu Depan

0
70

Jakarta, Malanesianews, – Pelaksana Tugas Deputi 2 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Dody Ruswandi meminta masyarakat tidak kaget atau panik jika jumlah kasus positif virus Corona naik signifikan pada pekan depan. Hal itu, seiring dengan naiknya jumlah pengetesan spesimen yang dilakukan sesuai dengan permintaan Presiden Jokowi.

“Sebenarnya memang di daerah ini harapannya hasil positif itu memang kita targetkan untuk naik. Kenapa? Karena memang kemarin itu kita seharusnya kita itu ditargetkan bisa 10 ribu testing per hari oleh Pak Presiden,” kata Dody dalam rapat bersama Komisi VIII, Selasa (12/5).

Menurut dia, tes masif terkait Corona tersebut dilakukan agar kurva data kasus positif Covid-19 turun lebih cepat hingga Indonesia terbebas dari wabah itu.

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan BNPB berharap, jumlah orang positif Covid-19 naik hingga 40 ribu pasien saat tes masif dilakukan. Sebab, berdasarkan kajian, wabah Corona dapat terselesaikan ketika semakin banyak pasien Covid-19 yang terdeteksi dan terobati.

“Harapan kita bisa mencapai 40 ribu, supaya itu bisa mewakili daerah merah yang kita anggap mewakili daerah tersebut,” kata dia.

“Sehingga nanti mungkin jangan kaget bapak ibu bahwa minggu depan itu akan cenderung banyak naiknya. Secara teknis memang harus begitu, karena supaya kita bisa mempercepat selesainya Covid ini, memang jumlah testing harus kita naikkan,” lanjut Dody.

Dia memperkirakan, puncak kenaikan kasus Corona di Indonesia terjadi pada Juni 2020. Inipun jika pengujian masif berhasil.

Namun, lanjut dia, kalaupun nanti terjadi kenaikan jumlah positif hal itu tidak lantas berdampak pada kenaikan jumlah mereka yang dirawat di rumah sakit. Sebab sejauh ini hanya mereka yang sakit berat, hingga kemudian meninggal dunia yang dirawat di RS.

“Tetapi kalau nanti mereka naik, ini kan memang tidak ada hubungan langsung testing dengan yang di rumah sakit. Yang kita jaga adalah justru yang meninggal, yang meninggal ini memang secara statistik di Indonesia itu memang sampai 6-7 persen itu yang kritis dari semua yang positif,” ujar Dody.