DENPASAR, Malanesia News — Rencana Strategis Kementerian Pariwisata (Renstra Kemenpar) 2025–2029 telah mengetuk palu: Indonesia resmi menggeser kiblatnya menuju pariwisata berkualitas melalui Wellness Tourism (wisata kebugaran). Dalam cetak biru tersebut, Bali dan Jawa Tengah telah diberikan panggung utama. Namun, sebuah pertanyaan besar kini harus diarahkan ke kawasan Indonesia Timur (Maluku dan Papua): ketika gerbang depan telah siap dibuka, siapkah seisi rumah besar Timur menawarkan isinya?
Praktisi Pariwisata, I Gusti Devraj Farawowan, menilai kawasan Indonesia Timur tidak boleh lagi bersikap pasif dan hanya menjadi perlintasan tanpa persiapan produk yang matang. Kawasan Timur harus segera merespon program nasional ini dengan melakukan langkah konkret: pendataan dan kurasi menyeluruh terhadap seluruh potensi atraksi wisata yang berbasis wellness tourism.
Makassar Sebagai Teras, Timur Sebagai Seisi Rumah
Dalam perspektif hospitality makro, Devraj menegaskan peran Kota Makassar di Sulawesi Selatan harus diposisikan secara proporsional.
“Makassar adalah pintu masuk atau teras dari rumah besar Indonesia Timur,” ujar I Gusti Devraj Farawowan. “Ketika terasnya sudah siap menyuguhkan etalase informasi dan promosi, tantangan terbesarnya kembali ke internal daerah Timur: apakah seisi rumahnya sudah siap menyambut wisatawan global dengan produk kebugaran yang matang?”
Menurut Devraj, daerah Timur sebenarnya memiliki modal yang jauh lebih besar dan otentik karena keaslian budaya serta bentang alamnya yang masih terjaga murni dari eksploitasi tangan-tangan investor skala besar.
Reposisi Wellness: Keunggulan Kebugaran Fisik dan Alam Perawan
Jika Kemenpar memberikan posisi (positioning) Bali (Ubud-Sanur) untuk wisata meditasi, yoga, dan spiritual, serta Jawa Tengah (Solo-Yogyakarta) untuk kebugaran berbasis herbal dan kearifan lokal keraton, maka Indonesia Timur memiliki ruang kosong yang sangat premium: Wisata Kebugaran Fisik dan Aktivitas Luar Ruangan (Sport & Physical Wellness).
“Daerah Timur mampu menghadirkan papan terumbu karang terindah di dunia seperti di Raja Ampat, Papua, serta hamparan pasir terhalus di dunia yang terletak di Kabupaten Maluku Tenggara,” ungkap Devraj. Potensi alam yang virgin ini sangat adaptif untuk dikembangkan menjadi pusat retret kebugaran aktif, marine wellness, hingga eksplorasi alam yang memicu kesehatan fisik dan mental secara holistik.
Bahkan, Devraj menegaskan bahwa dua positioning yang sudah diberikan kepada Bali dan Jawa Tengah pun sebenarnya sangat bisa diadopsi di Timur dengan nilai otentisitas yang jauh lebih tinggi. Ketenangan spiritual Maluku-Papua serta kekayaan tanaman obat lokalnya merupakan modal terpendam yang belum tersentuh.
Langkah Taktis: Standar ‘Hospitality’ dan Konservasi Berbasis Komunitas
Guna memastikan daerah Timur siap menyodorkan “seisi rumahnya” ke pasar internasional, Devraj merumuskan dua rekomendasi taktis:
1. Pemetaan dan Inventarisasi Produk Wellness Lokal: Pemerintah daerah di Maluku dan Papua harus segera bergerak mendata klaster wisata kebugaran berbasis potensi alam masing-masing agar bisa dikemas menjadi paket wisata siap jual.
2. Proteksi Hak Adat dan Karakter Ekologis: Belajar dari degradasi lingkungan dan parsialnya penerapan tata ruang berbasis Tri Hita Karana di Bali, pembangunan fasilitas wellness di Timur wajib mengutamakan Community-Based Tourism (CBT). Jangan sampai otentisitas alam dirombak total demi amenitas instan yang merusak esensi “penyembuhan” itu sendiri.
Indonesia Timur memegang kartu as pariwisata masa depan. Dengan kesiapan mendata potensi lokal secara disiplin dan menjaga kemurnian alamnya, Maluku dan Papua tidak hanya siap menyukseskan program pemerintah, melainkan mampu menawarkan pengalaman wellness paling jujur dan berwibawa di dunia.



