Garap Turis Berkualitas, Kemenparekraf Resmikan Sektor ‘Wellness Tourism’ Jadi Program Prioritas Nasional 2025–2029

0
39

JAKARTA, Malanesia News — Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) secara resmi menetapkan wisata kebugaran (wellness tourism) sebagai salah satu program prioritas nasional. Langkah ini diambil sebagai strategi jangka panjang untuk menggeser paradigma pariwisata massal menuju penyerapan wisatawan mancanegara (wisman) berkualitas tinggi yang memiliki rata-rata pengeluaran lebih besar (high-spending) serta durasi tinggal yang lebih lama (longer length of stay).  

Langkah regulasi ini secara hukum telah diintegrasikan oleh Kemenpar ke dalam Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 7 Tahun 2025 tentang Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Pariwisata Tahun 2025–2029. Penomoran regulasi ini menjamin adanya kepastian hukum, target kinerja yang terukur, serta alokasi anggaran jangka panjang dalam menggarap pasar wisata kesehatan global.  

Menjawab Pergeseran Tren Global Pascapandemi

Kebijakan akselerasi wellness tourism ini didorong oleh meningkatnya kesadaran global terhadap kesehatan fisik dan mental pascapandemi COVID-19. Wisatawan modern saat ini tidak lagi sekadar mencari rekreasi visual, melainkan mencari aktivitas pemulihan jiwa (healing), meditasi, yoga, serta spa tradisional. Paket wisata kebugaran yang membutuhkan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu secara otomatis memperpanjang masa tinggal turis asing di dalam negeri.  

Guna memastikan kualitas ekosistem ini memenuhi ekspektasi pasar internasional, Kemenpar menempuh 4 langkah taktis utama:

1. Standardisasi Layanan dan Sertifikasi Internasional

Kemenpar menjalin kolaborasi dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk memberikan sertifikasi resmi bagi para terapis spa, instruktur yoga, hingga praktisi kesehatan tradisional herbal. Langkah standardisasi produk lokal juga diperketat untuk memastikan tempat retret kesehatan menggunakan bahan-bahan alam lokal yang higienis dan teruji aman.  

2. Pemetaan Koridor Destinasi Unggulan (Wellness Hub)

Pemerintah mengklasterkan wilayah percontohan berdasarkan kekuatan narasi budaya masing-masing daerah:  

 Klaster Bali (Ubud & Sanur): Difokuskan sebagai pusat meditasi, yoga, dan spiritual healing yang terintegrasi dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan.  

 Klaster Jawa Tengah (Solo & Yogyakarta): Dikembangkan sebagai pusat kebugaran berbasis herbal, aromaterapi, dan jamu tradisional nusantara memanfaatkan kearifan lokal keraton.  

3. Strategi Pemasaran B2B dan Kampanye Digital Global

Promosi bertajuk “Indonesia Wellness Tourism” gencar ditembakkan ke pasar utama dengan pengeluaran tinggi seperti Australia, Amerika Serikat, dan Eropa Barat. Kemenpar aktif memfasilitasi pelaku industri lokal lewat pameran pariwisata tahunan seperti Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) serta ajang Wellness Experience untuk menghubungkan pelaku usaha domestik langsung dengan pembeli internasional.  

4. Kolaborasi Lintas Sektor Lewat Indonesian Health Tourism Board (IHTB)

Mengingat sektor ini beririsan dengan dunia medis dan regulasi produk, Kemenpar resmi membentuk Indonesian Health Tourism Board (IHTB). Papan koordinasi ini menyatukan langkah Kemenpar dengan Kementerian Kesehatan (terkait terapi medis), BPOM (terkait keamanan obat herbal/jamu), serta Kementerian BUMN untuk menciptakan satu ekosistem pariwisata kesehatan yang solid dan terintegrasi.  

Melalui modal kekayaan alam yang melimpah, kekuatan tradisi pengobatan herbal, dan otentisitas budaya lokal, pemerintah optimistis Indonesia memiliki daya tawar yang sangat kuat untuk memimpin pasar wellness tourism utama di kawasan Asia Tenggara.