Duta Laut Dunia 2018 Baharudin Farawowan Bicara Branding City Nasional Seribu Bakau Waropen

0
33
Baharudin Farawowan Ketua Umum DPP Gerakan Poros Maritim Indonesia (GEOMARITIM) / Duta Indonesia dalam konferensi laut dunia OOC Tahun 2018

Waropen, Maalanesianews, – Kabupaten Waropen, yang dikenal dengan julukan eksotis “Seribu Bakau”, kini tengah dipersiapkan untuk memperkuat identitas ekonominya di kancah nasional. Langkah strategis ini mengemuka di sela-sela kegiatan konsolidasi internal PDI Perjuangan yang dilakukan oleh jajaran pengurus partai di wilayah tersebut.

Baharudin Farawowan, yang juga merupakan kader PDI Perjuangan sekaligus Ketua Umum DPP Gerakan Poros Maritim Indonesia (GEOMARITIM) dan Duta Indonesia dalam Konferensi Laut Dunia OOC 2018, menegaskan bahwa Waropen memiliki modal ekologis yang luar biasa untuk menjadi kekuatan ekonomi baru di Papua.

Dalam kunjungan tugas kepartaian tersebut, Baharudin melakukan diskusi mendalam bersama Bupati Waropen, Drs. Fransiscus Xaverius Mote, M.Si., dan Ketua DPRD Waropen, Yennike S.K. Dipan, S.Sos. Mengingat kedua pimpinan daerah tersebut juga merupakan kader PDI Perjuangan, tercipta momentum strategis untuk mendorong kebijakan yang selaras dan berpihak pada rakyat pesisir.

“Dengan kepemimpinan daerah yang saat ini berada dalam satu garis perjuangan, ini adalah momentum untuk mendorong kebijakan berbasis potensi lokal yang berorientasi jangka panjang,” ujar Baharudin dalam keteranganya di Waropen (Selasa, 28 April 2026)

Baharudin menyoroti bahwa potensi terbesar yang perlu segera diekspos secara nasional adalah kepiting bakau. Sebagai komoditas dengan nilai jual ekspor, kepiting Waropen harus dikelola dengan manajemen yang lebih profesional, meliputi:

  • Pembangunan sentra budidaya dan fasilitas cold storage.

  • Standarisasi kualitas dan pengemasan pasca-panen.

  • Pelatihan bagi nelayan dan pelaku UMKM lokal.

Menurut Baharudin, julukan “Waropen Negeri Seribu Bakau” bukan sekadar slogan, melainkan identitas strategis untuk mengangkat ekowisata dan ketahanan pesisir. Ia berharap Waropen tidak lagi hanya dikenal sebagai daerah yang sekadar “kaya potensi,” tetapi bertransformasi menjadi daerah yang mampu mengelola kekayaan alamnya menjadi kesejahteraan nyata.

“Dari bakau dan kepiting, kita tidak hanya bicara sumber daya, tetapi bicara tentang masa depan dan harga diri ekonomi masyarakat Waropen,” pungkasnya.