Peran Nahdatul Ulama Mempertegas Eksistensi Kemerdekaan Indonesia di Tanah Papua

0
8

Jayapura, Malanesianews, – Kemerdekaan Indonesia yang selalu kita peringati tanggal 17 Bulan Agustus sejak Tahun pertama peringatan 1946, sampai dengan saat ini, 17 Agustus 2026 (81 Tahun), tidak terlepas dari peran Nahdatul Ulama dalam memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia, serta mempertahankannya.

Telah banyak tokoh perjuangan NU dalam merebut Kemerdekaan Indonesia. Diantaranya :

KH Hasyim Asy’ari; Pendiri dan Rais Akbar NU yang mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 agar umat Islam wajib melawan tentara sekutu.

KH Abdul Wahab Chasbullah; Tokoh kunci pencetus ide-ide kebangsaan dan jaringan ulama yang mengantar kemerdekaan.

KH Abdul Wahid Hasyim; Berperan penting di Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) untuk menyatukan kelompok Islam dan nasionalis.

Inilah beberapa tokoh dari sekian banyaknya tokoh NU dalam memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia.

Papua yang kala itu dikenal dengan nama Irian Barat saat Kemerdekaan Indonesia, masih dalam penguasaan Belanda, menjadi pergumulan dan salah satu agenda besar tokoh – tokoh Nasionalis Indonesia, diantaranya :

Ir. Soekarno; Mencetuskan komando Tri Komando Rakyat (Trikora) pada 19 Desember 1961 di Yogyakarta untuk menggagalkan negara boneka buatan Belanda dan mengibarkan bendera Merah Putih di Irian Barat.

Komodor Yos Sudarso; Pahlawan nasional TNI Angkatan Laut yang gugur di Laut Aru saat memimpin patroli infiltrasi dalam misi operasi pembebasan Irian Barat.

Peran merebut Irian Barat, tidak terlepas dari peran tokoh – tokoh NU dalam memperjuangkan Irian Barat. Diantaranya :

KH. Abdul Wahab Chasbullah; Ia mencetuskan strategi politik dan keagamaan yang menjadi rujukan dalam penyelesaian sengketa wilayah tersebut. Bung Karno tercatat beberapa kali meminta pertimbangan langsung kepada Kiai Wahab selaku tokoh sentral NU dan anggota Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS) sebelum akhirnya mengumandangkan komando pembebasan.

KH. Noerhasjim Gandhi; Seorang ulama dan pejuang sukarelawan asal Banyuwangi yang turut berjuang serta mendampingi proses integrasi wilayah Papua di lapangan pada masa-masa krusial kembalinya Irian Barat ke pangkuan Indonesia.

Sumbangsih praktis dan taktis yang nyata dari NU di Tanah Papua, pada tahun 1962 Ketika UNTEA (Badan Pelaksana sementara PBB yang dibentuk mengelola wilayah Irian Barat) sebelum peralihan dari Belanda ke Indonesia, melalui tokoh NU yang juga sebagai Ketua PB NU terlama di Indonesia (20 tahun), KH Idham Kholid yang saat itu menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia, diutuslah KH Khoso dari Jakarta dan KH. Noerhasjim Gandhi dari Banyuwangi dan beberapa Jami’iya datang ke Sorong di bulan Desember, tahun 1962. Itulah cikal bakal program transmigrasi pertama Indonesia dan dari situlah cikal bakal terbentuknya Nahdatul Ulama di Tanah Papua.(Sumber : Tulisan Baharudin Farawowan)

Inilah peran serta dan sumbangsih besar Nahdlatul Ulama memberikan harmonisasi dalam memperjuangkan integrasi Irian Barat (Papua) kedalam pangkuan Ibu Pertiwi.

Penulis,
Frits Karubaba
Fungsionaris New Papua Foundation(NPF)