Jakarta, Malanesianews, — Kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi akhirnya sandar di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (18/9/2026) pagi. Kapal perang yang diproyeksikan menjadi kapal induk pertama Indonesia itu memasuki kawasan pelabuhan sekitar pukul 07.58 WIB setelah menempuh perjalanan dari Italia. Kedatangannya disambut jajaran pimpinan TNI dan pemerintah, termasuk Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto.
Kapal tersebut sebelumnya berlayar dari Italia sejak 24 Agustus 2026. Dalam perjalanan menuju Indonesia, Giuseppe Garibaldi singgah di sejumlah negara, termasuk Sri Lanka, sebelum memasuki wilayah Indonesia melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I di perairan Bangka. Saat memasuki wilayah perairan Indonesia, kapal itu dikawal KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321.
Kehadiran kapal induk ini membuka pembahasan baru mengenai kemampuan proyeksi kekuatan dan pengawasan maritim Indonesia, terutama di wilayah laut yang luas dan strategis. Salah satu perhatian penting adalah kawasan Indonesia bagian timur yang mencakup perairan Maluku, Maluku Utara, Papua, hingga perairan di sekitar Kepulauan Pasifik. Dengan karakter geografis berupa ribuan pulau dan wilayah laut yang luas, pengawasan kawasan tersebut membutuhkan kemampuan deteksi, patroli, mobilitas, serta dukungan udara yang terintegrasi.
Secara teknis, Giuseppe Garibaldi merupakan kapal jenis through-deck aviation cruiser yang memiliki kemampuan mengoperasikan helikopter dan wahana udara tertentu. Kapal ini memiliki panjang sekitar 180,2 meter, lebar 33,4 meter, dan kemampuan jelajah hingga 7.000 mil laut pada kecepatan ekonomis. Kapasitas tersebut memberikan fleksibilitas untuk mendukung operasi laut jarak jauh, meski efektivitasnya untuk misi tertentu tetap bergantung pada konfigurasi, sistem persenjataan, pesawat atau helikopter yang digunakan, serta doktrin operasi TNI AL.
Dengan masuknya kapal ini ke Indonesia, perhatian berikutnya tertuju pada bagaimana aset tersebut akan ditempatkan dalam struktur kekuatan TNI AL. Jika nantinya digunakan untuk mendukung operasi di kawasan timur, kapal induk dapat menjadi salah satu unsur pendukung dalam memperluas jangkauan pemantauan dan respons maritim. Namun, pengawasan laut Indonesia tetap membutuhkan kombinasi berbagai unsur, mulai dari kapal patroli, pesawat udara, radar, satelit, hingga sistem komando dan informasi yang mampu menghubungkan seluruh wilayah operasi secara terpadu.Kalau mau, saya juga bisa buatkan versi yang lebih tajam seperti berita breaking news nasional, dengan lead yang lebih kuat dan fokus khusus pada ancaman serta pengawasan laut Papua dan Indonesia Timur.



