Darurat Karhutla Indonesia: 1,3 Juta Hektare Hangus, Wilayah Kalimantan dan Timur Indonesia Makin Kritis dan Tak Tertangani

0
20
Jakarta, Malanesianews, — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus meluas dari wilayah barat hingga timur Indonesia dengan kondisi darurat yang belum tertangani secara menyeluruh. Data analisis SiPongi Kementerian Kehutanan dan lembaga pemantau mencatat akumulasi luas area terbakar secara nasional sepanjang tahun 2026 telah menembus angka kritis sebesar lebih dari 1,32 juta hektare, melonjak drastis hingga 69 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Di wilayah Sumatra, kabut asap pekat terus mengepung Kota Palembang dan wilayah Sumatra Selatan. Sementara itu, akumulasi luas lahan terbakar di Provinsi Riau terus melonjak kritis menembus belasan ribu hektare. Upaya pendinginan di kabupaten Bengkalis, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir masih terhambat total akibat kelangkaan sumber air serta mengeringnya sekat kanal di area lahan gambut dalam.
Keadaan tak kalah mengkhawatirkan terjadi di Kalimantan Tengah, di mana wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat mencatatkan total luas areal terbakar mencapai 2.655 hektare dengan akumulasi lebih dari 4.700 titik panas. Kota Palangka Raya bahkan terpaksa memperpanjang status Tanggap Darurat Karhutla akibat sebaran api yang kian mendekati kawasan permukiman warga serta mengancam koridor habitat satwa liar orangutan.
Di bagian timur Indonesia, gumpalan api merambah agresif hingga merusak ekosistem vital. Data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) merekam sebanyak 147.868 hektare lahan terbakar di Papua Selatan—dengan kontribusi terbesar di Kabupaten Merauke (110.951 ha) dan Mappi (34.897 ha)—di mana kepulan asapnya kini telah merembet hingga menyelimuti kawasan konservasi Taman Nasional Lorentz. Situasi darurat serupa meluas ke wilayah Kepulauan Maluku dan Papua Barat, di mana kebakaran di Kabupaten Kaimana telah menghanguskan sedikitnya 185 hektare hutan dan memicu kemunculan titik api baru yang tak terkendali.
Krisis ini makin genting akibat ketimpangan drastis antara luasnya area terbakar dengan keterbatasan armada serta personel Satgas Manggala Agni di lapangan. Di Kalimantan Barat dan Papua, rasio satu petugas harus menanggulangi ratusan hektare api aktif di tengah medan terjal tanpa akses air. Sementara itu, efektivitas Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan penyiraman udara (water bombing) terhalang oleh minimnya pembentukan awan hujan potensial, membuat ribuan hektare lahan terus membara tanpa penanganan langsung dari darat.