Timbulan E-Waste RI Capai 1,9 Juta Ton, Daur Ulang Perangkat Digital Digenjot

0
19

Jakarta, Malanesianews, – Pesatnya penggunaan teknologi digital di Indonesia berbanding lurus dengan melonjaknya jumlah sampah elektronik (electronic waste atau e-waste). Laporan Global E-Waste Monitor 2024 yang dirilis International Telecommunication Union (ITU) dan United Nations Institute for Training and Research (UNITAR) mencatat Indonesia menghasilkan sekitar 1,9 juta ton e-waste pada 2022. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai penyumbang sampah elektronik terbesar di Asia Tenggara sekaligus salah satu yang tertinggi di dunia.

Menanggapi tantangan lingkungan tersebut, pendekatan ekonomi sirkular kini didorong untuk mengoptimalkan siklus hidup perangkat digital, seperti server, GPU, hingga perangkat jaringan. Konsep ini berfokus pada upaya mempertahankan nilai material dan komponen elektronik selama mungkin melalui skema perbaikan (refurbishment), penggunaan kembali (second life), maupun daur ulang material. Melalui pengelolaan yang tepat, perangkat yang tidak lagi terpakai tidak berakhir sebagai limbah, melainkan dikembalikan ke dalam ekosistem produksi yang produktif.

Komitmen pengelolaan dampak lingkungan ini salah satunya diwujudkan melalui program kolaborasi bertajuk #AksiCintaBumi yang diusung Lintasarta bersama komunitas EwasteRJ sepanjang Agustus hingga November 2026. Program ini menargetkan pengumpulan 380 kilogram e-waste dari area Jakarta, Tangerang Selatan, dan Depok. Head Corporate Secretary, Legal, and Regulatory Lintasarta Billy Nikolas Simanjuntak menegaskan bahwa kemajuan teknologi digital harus berjalan seiring dengan tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.

Program ini memilah perangkat elektronik yang terkumpul berdasarkan kondisinya. Perangkat yang masih berfungsi diarahkan untuk penggunaan ulang, sedangkan perangkat yang telah habis masa pakainya diproses guna memulihkan komponen dan material berharga di dalamnya. Founder EwasteRJ Rafa Jafar menambahkan bahwa pengelolaan e-waste perlu dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari siklus hidup teknologi untuk memastikan setiap material masuk ke ekosistem yang tepat.

Guna membangun kesadaran jangka panjang, keterlibatan generasi muda menjadi fokus utama dalam gerakan ini. Pelajar dan mahasiswa, termasuk dari Universitas Indonesia, SMA Labschool Cirendeu, serta komunitas Trash Ranger Indonesia, dilibatkan langsung dalam edukasi pengelolaan sampah elektronik. Sebagai simbol kolaborasi Unity in Action, sebagian material dari hasil pengelolaan e-waste tersebut ditransformasikan menjadi karya seni edukatif berbentuk Garuda dan Peta Indonesia.