Sumpah Pemuda ke-98: Potret Seremonial Megah di Tengah Bayang-Bayang Ketimpangan Daerah

0
18

Jakarta, Malanesianews, – Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 kembali dirayakan dengan megah di seluruh pelosok negeri di bawah naungan tema resmi “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”. Berbagai upacara bendera, mimbar pidato, hingga ajang penghargaan kepemudaan digelar oleh pemerintah demi memompa kembali semangat persatuan nasional. Namun, di balik riuh rendah selebrasi kebangsaan ini, realitas di lapangan menunjukkan bahwa fondasi persatuan tanah air masih dibayang-bayangi jurang ketimpangan yang lebar, terutama bagi anak-anak muda yang menetap di wilayah Timur Indonesia.

Peringatan tahunan ini sejatinya menuntut evaluasi kritis atas janji kesetaraan yang diikrarkan sejak 1928. Narasi kemajuan digital dan bonus demografi sering kali terasa eksklusif dan terpusat di kawasan Barat Indonesia, sementara talenta-talenta di kawasan Timur masih dihadapkan pada keterbatasan mendasar. Janji persatuan tidak akan pernah sepenuhnya wujud selama anak muda di pulau-pulau terluar dan kawasan terpencil masih harus mengarungi hambatan struktural demi mendapatkan pendidikan dasar dan akses pekerjaan yang layak.

Sektor pendidikan dan infrastruktur digital menjadi titik krusial yang mempertegas ketimpangan tersebut. Ketika pemuda di kota-kota besar melaju cepat dengan kecerdasan buatan dan ekonomi kreatif, anak muda di Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua kerap kali harus bertaruh dengan keterbatasan listrik, sinyal internet yang tidak stabil, serta fasilitas sekolah yang belum memadai. Ketimpangan akses ini secara langsung mengikis daya saing pemuda Timur dalam menembus pasar kerja nasional maupun global, menjadikan potensi besar mereka terhalang oleh garis geografis.

Oleh karena itu, pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan dituntut merubah pola pendekatan dalam pembangunan kepemudaan. Ke depan, negara tidak boleh lagi menempatkan kawasan Timur sekadar sebagai penonton selebrasi atau objek program seremonial belaka. Diperlukan alokasi anggaran yang berpihak, penguatan program beasiswa khusus talenta lokal, serta pemerataan infrastruktur riset dan teknologi agar anak muda di wilayah Timur memiliki ruang tumbuh dan kapasitas kepemimpinan yang sejajar dengan daerah lainnya.

Sumpah Pemuda tidak boleh dibiarkan memudar menjadi ritual nostalgia tahunan yang hampa makna. Indonesia Emas hanya dapat terwujud apabila keberanian dan cita-cita pemuda dari Sabang sampai Merauke dirawat dengan keadilan yang nyata. Sudah saatnya pemuda Timur Indonesia diberikan panggung utama dan daya dukung penuh untuk memimpin, sebab kedaulatan serta keutuhan bangsa ini diuji dari sejauh mana negara merangkul mereka yang berada di barisan terdepan wilayah timur nusantara.