Jayapura, Malanesianews, – Satelit Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merekam kepulan asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang membumbung di wilayah selatan Pulau Papua. Berdasarkan citra Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) pada satelit NOAA-20 yang dipublikasikan NASA Earth Observatory, kabut asap tebal menyelimuti wilayah tersebut selama berminggu-minggu.
Data dari Global Fire Emissions Database (GFED) menunjukkan emisi karbon dari kebakaran hutan di wilayah Papua Indonesia melampaui angka 35 juta ton. Angka ini mencatatkan rekor emisi karbon salah satu yang tertinggi di kawasan tersebut, seiring tingginya intensitas lonjakan titik api dibandingkan wilayah Sumatra dan Indonesia bagian barat lainnya.
Peneliti NASA Goddard Institute for Space Studies, Robert Field, menyatakan bahwa kekeringan yang diperparah fenomena iklim El Niño menjadi pemicu utama meningkatnya kerentanan vegetasi lahan terhadap api. Sebagian besar titik api dipicu oleh aktivitas manusia seperti pembukaan lahan pertanian dan pembakaran ladang yang kemudian merambat di luar kendali.
Tebalnya kabut asap yang tertahan di dekat permukaan tanah berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat serta mengganggu aktivitas transportasi penerbangan lokal di pulau tersebut. Sejumlah penerbangan terpaksa ditunda dan dibatalkan, sementara fasilitas pendidikan di beberapa area terdampak memberlakukan imbauan penutupan sekolah serta kewajiban penggunaan masker.
Para peneliti memproyeksikan aktivitas karhutla dan kepulan kabut asap di selatan Pulau Papua akan terus berlanjut hingga musim penghujan tiba secara bertahap. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama pihak terkait terus mengupayakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk memancing curah hujan demi memadamkan titik-titik api utama.



