Pemerintah Provinsi Papua dan Kemendikbud Ristek Sosialisasikan Program Adem dan Adik untuk OAP di Tahun 2023

0
569

Jayapura, Malanesianews,- Pemerintah Provinsi Papua bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) menggelar acara sosialisasi Afirmasi Pendidikan Menengah (Adem) dan Afirmasi Pendidikan Tinggi (Adik) Tahun 2023. Acara ini digelar di Hotel Horison Kotaraja, Kota Jayapura pada Rabu (10/5/2023) dan dihadiri oleh para Kepala Dinas Pendidikan tingkat kabupaten/kota di Provinsi Papua, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.

Dalam acara tersebut, Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan, Arsip Daerah (DPPAD) Provinsi Papua, Christian Sohilait, menyatakan harapannya agar program pendidikan Adik dan Adem dapat dijalankan dengan baik dan memperhatikan kebutuhan Orang Asli Papua (OAP) yang menjadi sasarannya. Christian mengatakan bahwa semua program pendidikan harus mampu menjawab beberapa angka statistik pendidikan yang kurang baik di wilayah tersebut, seperti angka anak putus sekolah, angka buta huruf, dan anak-anak ngelem (aibon). Oleh karena itu, program-program pendidikan, baik dari tingkat nasional hingga tingkat daerah, harus fokus pada peningkatan kualitas pendidikan di wilayah tersebut.

Kepala Bidang Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) DPPAD Papua, Laorens Wantik, memaparkan bahwa kuota penerima beasiswa Adem pada tahun 2023 sebanyak 350 siswa, sedangkan penerima beasiswa Adik sebanyak 315 siswa. Hal ini mencakup 29 kabupaten/kota di Papua, termasuk di 3 daerah otonom baru (DOB). Laorens mengatakan bahwa setelah pemekaran wilayah, perlu dilakukan diskusi tentang kuota Adik dan Adem serta anggaran yang tersedia untuk program tersebut.

Koordinator Pokja Beasiswa Pendidikan Tinggi, Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik), Kemendikbud Ristek, Septien Prima Diassari, menyebutkan bahwa program Adik dan Adem merupakan bagian dari 5 program Puslapdik, yaitu Program Indonesia Pintar, Aneka Tunjangan, Beasiswa Pendidikan Tinggi, hingga Beasiswa Pendidikan Indonesia. Septien menjelaskan bahwa sosialisasi tersebut bertujuan untuk menjelaskan tentang program Adik dan Adem serta mekanisme rekrutmen penerima beasiswa dan proses belajar mereka di kota studi.

Sementara itu, peserta sosialisasi mengungkapkan antusiasmenya terhadap program Adik dan Adem. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Yahukimo, Fredi Yikwa, menyatakan bahwa program ini sangat penting bagi pendidikan di wilayahnya karena dapat membantu siswa OAP yang kurang mampu untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Ia berharap agar program ini dapat terus dilanjutkan dan ditingkatkan di masa yang akan datang.

Selain itu, Koordinator Pokja Beasiswa Pendidikan Tinggi, Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan (Puslapdik), Kemendikbud Ristek, Septien Prima Diassari, menjelaskan bahwa Adik dan Adem sendiri merupakan program dari Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan. Selain Adik dan Adem, terdapat 5 program lain dari Puslapdik, seperti Program Indonesia Pintar, Aneka Tunjangan, Beasiswa Pendidikan Tinggi, hingga Beasiswa Pendidikan Indonesia.

Para peserta sosialisasi diminta untuk mengikuti sosialisasi dengan baik, termasuk menanyakan soal mekanisme rekrutmen penerima beasiswa Adik dan Adem, serta bagaimana proses belajar mereka di kota studi. Christian Sohilait mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama memajukan pendidikan di Papua, dan menjadikan kebijakan pendidikan sebagai kebijakan yang prioritas, meskipun harus menghadapi berbagai masalah dan tantangan dalam menjalankan program-program pendidikan tersebut.

(agengrdyndr)

Artikulli paraprakTingkatkan Kewirausahaan di Port Numbay, Pemuda Orang Asli Papua Ikuti Pelatihan dari Pemerintah Kota Jayapura
Artikulli tjetërPemerintah Kabupaten Yahukimo Pastikan Tidak Ada Warga Masyarakatnya Terserang Gizi Buruk
WWW.MALANESIA.NEWS
Perubahan sosial budaya yang terjadi di masyarakat menandai bahwa kehidupan sosial sejatinya dinamis. Kita sebagai individu senantiasa mengalami perubahan baik secara fisik maupun intelektualitas. Begitu pula dengan kumpulan individu beserta pola interaksinya yang disebut dengan masyarakat. Masyarakat selalu menginginkan perkembangan kehidupan ke arah yang lebih baik, seperti halnya Masyarakat adat di Kepulauan Kei Provinsi Maluku yang hidup dalam satu Ikatan Hukum Adat yaitu Hukum Larvul Ngabal. Namun demikian Masyarakat adat di Kepulauan Kei Provinsi Maluku masih di hadapkan dengan masalah-masalah mendasar seperti Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi ,Sosial Budaya dan kesejahteraan umum lainnya Untuk mengangkat dan memperjuangkan hak-hak dasar di atas maka Saudara Baharudin Farawowan memprakarsai pembentukan Lembaga Sosial Kemasyrakatan , Wadah yang di beri nama YAYASAN LENTERA EVAV atau yang di singkat YANTE. Yayasan Lentera Evav (YANTE) kemudian di daftarkan pada Notaris dan PPAT Hengki Tengko,SH tanggal 4 Desember 2009 di Langgur Kabupaten Maluku Tenggara dengan Pendiri Herlinda dan Baharudin Farawowan di percayakan menjadi Ketua YANTE.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini