Gempa M 7,7 di Nagekeo NTT: Bangunan Hancur, 2 Orang Dilaporkan Meninggal

0
25

Jakarta, Malanesianews,  – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi telah mengakhiri peringatan dini tsunami menyusul gempa bumi tektonik kuat yang mengguncang wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Meski status siaga tsunami telah dicabut, bencana alam ini mengakibatkan jatuhnya korban jiwa serta kerusakan bangunan di sejumlah daerah terdampak.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengonfirmasi bahwa berdasarkan data sementara yang dihimpun hingga Sabtu (15/8/2026), insiden tersebut memakan korban jiwa. “Sejauh ini, ada dua orang meninggal,” ungkap Berton dalam konferensi pers virtual yang disiarkan melalui Zoom.

Selain korban jiwa, guncangan gempa yang dirasakan dalam berbagai skala intensitas turut memicu kerusakan material yang cukup signifikan di lapangan. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika, Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, memaparkan bahwa kerusakan skala sedang hingga berat (skala 4-5 MMI) mencakup robohnya tembok rumah warga di Maumere, Manggarai Barat, serta Labuan Bajo.

Sementara itu, dampak dengan skala intensitas 6-7 MMI dilaporkan merusak infrastruktur vital seperti area Pelabuhan Maumere dan bangunan Hotel Jayakarta Bajo. Sebagai tindak lanjut atas kerusakan tersebut, pihak BMKG memastikan akan segera menerjunkan tim khusus guna melakukan survei langsung ke lokasi terdampak mulai hari ini.

Sebelum peringatan dini tsunami resmi diakhiri, gelombang air laut dengan ketinggian bervariasi di bawah 1 meter sempat terdeteksi di berbagai wilayah pesisir, mulai dari Sikka, Labuan Bajo, Dompu, hingga Maurole yang mencatat ketinggian mencapai 0,94 meter, serta menjangkau wilayah Sulawesi Tenggara dan Selatan. Menyikapi situasi pascabencana ini, BNPB mengimbau masyarakat agar tetap tenang namun senantiasa waspada terhadap potensi gempa susulan serta menghindari bangunan yang mengalami keretakan struktur.