Jayapura, Malanesianews, – Gagasan Pemerintah Kabupaten Jayapura untuk menjadikan lokasi pelaksanaan Festival Danau Sentani (FDS) sebagai destinasi wisata permanen dan pusat kuliner UMKM patut diapresiasi sebagai upaya menggerakkan ekonomi masyarakat dan sektor pariwisata daerah. Namun, langkah tersebut dinilai belum cukup untuk menjawab persoalan mendasar yang tengah dihadapi Kawasan Sentani secara keseluruhan.
Menurut Ceo & Founder LSM New Papua Foundation (NPF) Baharudin Farawowan Kawasan Sentani sesungguhnya merupakan satu kesatuan ekosistem strategis yang terdiri dari Danau Sentani, kawasan penyangga Pegunungan Cycloop, hingga kawasan Bandara Sentani yang memiliki hubungan erat dari sisi lingkungan, ekonomi, tata ruang, hingga keselamatan penerbangan.
“ Karena itu, Festival Danau Sentani seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai agenda budaya dan pariwisata tahunan, tetapi dijadikan momentum besar untuk memulai penataan Kawasan Strategis Sentani secara menyeluruh, terintegrasi, dan berkelanjutan.” Ujar mantan Sekretaris KNPI Kabupaten Jayapura ini.
Lebih lanjut menurutnya Kerusakan kawasan hutan dan daerah tangkapan air di Pegunungan Cycloop terus meningkatkan laju sedimentasi ke Danau Sentani. Kondisi tersebut menyebabkan pendangkalan danau, penurunan kualitas air, serta meningkatnya ancaman banjir yang sewaktu-waktu dapat terjadi dan berdampak langsung terhadap masyarakat di wilayah Sentani dan sekitarnya.
“ Di sisi lain, masyarakat yang hidup di sekitar Danau Sentani, khususnya para nelayan tradisional, saat ini menghadapi berbagai tantangan serius. Hasil tangkapan ikan terus menurun, ruang tangkap semakin menyempit, dan kualitas lingkungan danau mengalami penurunan dari tahun ke tahun.” Ujar Farawowan
Apabila persoalan tersebut tidak ditangani secara komprehensif, maka pembangunan pusat kuliner permanen atau penataan lokasi FDS sebagai destinasi wisata permanen hanya akan menjadi solusi parsial yang tidak menyentuh akar persoalan yang sesungguhnya.Tutupnya (MCS)



