Waspada Tekanan Inflasi, Nilai Tukar Rupiah Akhirnya Tembus Level Rp17.000

0
19

Jakarta, Malanesianews, – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mencatat pergerakan dramatis dengan menembus level psikologis Rp17.000 pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026. Berdasarkan data pasar spot, mata uang Garuda sempat terpuruk hingga menyentuh angka Rp17.019 per dolar AS pada sesi perdagangan siang hari. Pelemahan tajam ini menandai titik terendah baru bagi rupiah di tengah gejolak pasar keuangan global yang membuat investor cenderung beralih ke aset aman (safe haven).

Momen tembusnya angka Rp17.000 ini menjadi sangat krusial karena merupakan peristiwa pertama yang terjadi dalam kondisi ekonomi modern Indonesia sejak Krisis Moneter 1998. Pada Juni 1998, rupiah memang pernah menyentuh level tertinggi di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.000 secara intra-day, namun setelah itu rupiah cenderung stabil di bawah level tersebut selama lebih dari dua dekade. Rekor pelemahan hari ini mencerminkan besarnya skala tekanan eksternal yang sedang dihadapi oleh stabilitas moneter dalam negeri.

Penyebab utama anjloknya nilai tukar rupiah adalah eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang telah mendorong harga minyak mentah dunia melampaui 100 dolar AS per barel. Gangguan pada jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz, meningkatkan kekhawatiran akan kelangkaan pasokan minyak. Sebagai negara pengimpor minyak (net importer), Indonesia mengalami lonjakan kebutuhan devisa untuk impor energi, yang secara langsung menekan posisi nilai tukar rupiah di pasar internasional.

Dampak dari pelemahan ini diprediksi akan segera dirasakan oleh masyarakat melalui kenaikan harga bahan pokok, terutama produk yang memiliki komponen impor tinggi seperti gandum dan kedelai. Para pengamat ekonomi memperingatkan bahwa jika rupiah terus bertahan di atas level Rp17.000 setelah masa Lebaran 2026, tekanan inflasi akan semakin berat bagi daya beli warga. Saat ini, Bank Indonesia diharapkan terus melakukan intervensi taktis di pasar valas untuk menjaga stabilitas kurs agar tidak terus merosot lebih dalam.