Sempat Dianggap Punah 6.000 Tahun, Posum dan Glider Purba Ditemukan di Papua Barat Daya

0
27

Jayapura, Malanesianews, – Sebuah penemuan luar biasa mengguncang dunia konservasi setelah tim peneliti internasional mengonfirmasi keberadaan dua spesies mamalia berkantong (marsupial) di pedalaman hutan hujan Semenanjung Vogelkop, Papua Barat Daya. Posum jari panjang mungil (Dactylonax kambuayai) dan glider ekor cincin (Tous ayamaruensis), yang sebelumnya diyakini telah punah sekitar 6.000 tahun lalu, kini diidentifikasi sebagai ‘taksa Lazarus’—spesies yang muncul kembali setelah dianggap hilang dari sejarah geologi. Penemuan yang dipublikasikan dalam jurnal Records of the Australian Museum pada Maret 2026 ini didasarkan pada analisis mendalam terhadap koleksi spesimen langka, foto lapangan, serta bukti fosil dari zaman Pleistosen.

Keberhasilan identifikasi ini merupakan hasil kolaborasi erat antara pakar dari Australian Museum, Bishop Museum, dan Universitas Papua (UNIPA), yang didukung penuh oleh kearifan lokal masyarakat adat Maybrat dan Tambrauw. Para peneliti, termasuk Profesor Tim Flannery dan Profesor Kristofer Helgen, menekankan bahwa tanpa pengetahuan mendalam dari tetua adat mengenai ekosistem hutan kauri raksasa, spesies ini mungkin tetap tersembunyi. Bagi masyarakat lokal, khususnya marga Tambrauw, glider ekor cincin yang disebut ‘Tous’ bukan sekadar hewan biasa, melainkan dianggap sebagai perwujudan roh nenek moyang yang keramat, sehingga habitatnya telah dijaga secara turun-temurun selama ribuan tahun.

Secara biologis, kedua spesies ini memiliki keunikan yang signifikan dibandingkan kerabat mereka di daratan Australia. Glider ekor cincin (Tous ayamaruensis) tercatat sebagai genus baru pertama yang ditemukan di Pulau Papua sejak tahun 1937, dengan karakteristik fisik berupa telinga tanpa bulu, ekor prehensil (pengait), dan sifat monogami yang hanya menghasilkan satu keturunan per tahun. Sementara itu, posum jari panjang mungil dikenal memiliki kemampuan adaptasi tinggi namun sempat menghilang dari habitat aslinya di Australia saat Zaman Es. Kehadiran mereka di Semenanjung Vogelkop memperkuat teori bahwa wilayah ini merupakan potongan purba benua Australia yang membawa sisa-sisa keanekaragaman hayati masa lalu.

Meskipun membawa angin segar bagi dunia sains, keberadaan dua spesies ini kini menghadapi ancaman serius dari ekspansi konsesi pemanfaatan kayu (logging) di wilayah Kepala Burung. Mengingat habitat utama mereka berada di lubang-lubang pohon hutan tertinggi, kerusakan hutan dapat menyebabkan kepunahan permanen bagi populasi yang baru ditemukan ini. Para peneliti dan akademisi dari UNIPA, seperti Aksamina Yohanita dan Rika Korain, menyerukan perlunya perlindungan bioregional yang lebih ketat dan pengakuan terhadap wilayah adat. Penemuan ini menjadi pengingat penting bahwa hutan Papua masih menyimpan rahasia evolusi yang tak ternilai, yang keberlangsungannya sangat bergantung pada sinergi antara sains modern dan perlindungan hutan oleh masyarakat adat.