Maluku, Malanesianews, – Laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku menunjukkan adanya kenaikan tipis pada Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di wilayah tersebut. Kepala BPS Provinsi Maluku, Maritje Pattiwaelapia, mengungkapkan bahwa pada Agustus 2025, TPT Maluku mencapai peningkatan sebesar 0,16 persen poin dibandingkan periode yang sama di tahun 2024. Kenaikan ini mengindikasikan bahwa meskipun ada upaya penyerapan tenaga kerja, laju pertumbuhan angkatan kerja masih memberikan tekanan pada ketersediaan lapangan pekerjaan di provinsi kepulauan ini.
Fenomena pengangguran ini paling parah dirasakan oleh kelompok berpendidikan menengah. Data BPS secara spesifik menyoroti lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai kelompok dengan TPT tertinggi, mencapai 12,06 persen. Angka ini jauh di atas TPT lulusan jenjang pendidikan lain dan menjadi sinyal perlunya evaluasi terhadap relevansi kurikulum SMK dengan kebutuhan pasar kerja lokal. Di sisi lain, kelompok dengan pendidikan terendah, yaitu tamatan Sekolah Dasar (SD) ke bawah, mencatat TPT paling rendah, hanya sebesar 2,80 persen, yang seringkali disebabkan oleh penyerapan mereka di sektor informal atau pekerjaan yang tidak memerlukan kualifikasi formal tinggi.
Meskipun TPT secara keseluruhan naik, BPS Maluku juga mencatat adanya tren positif pada beberapa jenjang pendidikan. Dibandingkan Agustus 2024, terjadi penurunan TPT yang signifikan pada lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) sebesar 1,36 persen poin dan juga pada lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebesar 0,42 persen poin. Perbaikan ini mengisyaratkan bahwa sebagian kelompok tenaga kerja dengan kualifikasi menengah tertentu mulai terserap ke pasar kerja. Namun, ketimpangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan juga patut dicermati, di mana TPT di perkotaan tercatat jauh lebih tinggi (8,11 persen) dibandingkan perdesaan (4,98 persen), dan keduanya mengalami kenaikan TPT sebesar 0,10 persen poin.
Dalam aspek gender, kesenjangan pengangguran juga terlihat jelas. TPT untuk perempuan berada di angka 6,80 persen, melampaui TPT laki-laki yang tercatat 5,90 persen. Disparitas ini diperburuk oleh fakta bahwa TPT perempuan mengalami kenaikan signifikan sebesar 0,60 persen poin dari tahun sebelumnya, sementara TPT laki-laki justru menunjukkan penurunan sebesar 0,15 persen poin. Data ini menggarisbawahi tantangan spesifik dalam menciptakan lapangan kerja yang inklusif dan memadai bagi angkatan kerja perempuan di Maluku.



