Konektivitas Papua hingga NTT Ditingkatkan Lewat Proyek Transportasi Terpadu

0
2164

Ambon Malanesianews, – Pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan infrastruktur transportasi di kawasan timur Indonesia, termasuk Papua, Maluku, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur. Langkah ini diambil untuk meningkatkan konektivitas, menurunkan biaya logistik, dan mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah yang selama ini tergolong tertinggal dalam hal infrastruktur.

Di Papua, sejumlah pelabuhan seperti Depapre, Nabire, dan Serui tengah dikembangkan untuk memperkuat sistem transportasi laut dan mendukung program tol laut. Pengembangan pelabuhan ini juga diharapkan mampu mendorong distribusi logistik ke daerah-daerah pedalaman yang sulit dijangkau.

Sementara itu, di Sulawesi Selatan, pemerintah daerah dan pusat berkoordinasi untuk memastikan kesiapan infrastruktur menghadapi lonjakan mobilitas masyarakat, terutama menjelang musim libur panjang. Makassar sebagai simpul transportasi utama di kawasan timur diprediksi mengalami peningkatan arus penumpang dan barang secara signifikan.

Di Nusa Tenggara Timur, pemerintah provinsi mendorong penguatan transportasi antarwilayah guna memperlancar distribusi bahan kebutuhan pokok dan mempercepat pertumbuhan sektor pariwisata. Pembangunan jalan dan penguatan bandara perintis juga masuk dalam agenda utama.

Selain itu, proyek pengembangan Pelabuhan Anggrek di Gorontalo terus berjalan dengan konsep pelabuhan transhipment modern dan ramah lingkungan. Pelabuhan ini akan menjadi simpul penting untuk pengiriman barang dari dan ke wilayah timur, termasuk koneksi dengan pelabuhan utama seperti Makassar, Bitung, dan Sorong.

Langkah-langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun fondasi transportasi yang kuat di wilayah timur Indonesia, demi mendorong pemerataan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Artikulli paraprakNetralitas ASN dan Pengaruh Kepala Daerah jelang PSU Pilgub Papua
Artikulli tjetërBTM-CK Hadiri Terbentuknya Relawan Koteka Bersatu
WWW.MALANESIA.NEWS
Perubahan sosial budaya yang terjadi di masyarakat menandai bahwa kehidupan sosial sejatinya dinamis. Kita sebagai individu senantiasa mengalami perubahan baik secara fisik maupun intelektualitas. Begitu pula dengan kumpulan individu beserta pola interaksinya yang disebut dengan masyarakat. Masyarakat selalu menginginkan perkembangan kehidupan ke arah yang lebih baik, seperti halnya Masyarakat adat di Kepulauan Kei Provinsi Maluku yang hidup dalam satu Ikatan Hukum Adat yaitu Hukum Larvul Ngabal. Namun demikian Masyarakat adat di Kepulauan Kei Provinsi Maluku masih di hadapkan dengan masalah-masalah mendasar seperti Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi ,Sosial Budaya dan kesejahteraan umum lainnya Untuk mengangkat dan memperjuangkan hak-hak dasar di atas maka Saudara Baharudin Farawowan memprakarsai pembentukan Lembaga Sosial Kemasyrakatan , Wadah yang di beri nama YAYASAN LENTERA EVAV atau yang di singkat YANTE. Yayasan Lentera Evav (YANTE) kemudian di daftarkan pada Notaris dan PPAT Hengki Tengko,SH tanggal 4 Desember 2009 di Langgur Kabupaten Maluku Tenggara dengan Pendiri Herlinda dan Baharudin Farawowan di percayakan menjadi Ketua YANTE.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini