Jakarta, Malanesianews, – Berdasarkan laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja ekspor Indonesia sepanjang periode Januari hingga November 2025 menunjukkan tren positif dengan total nilai mencapai US$ 256,56 miliar atau setara Rp 4.285,7 triliun. Angka ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 5,61 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Meski demikian, performa bulanan menunjukkan sedikit kelesuan, di mana nilai ekspor pada November 2025 tercatat sebesar US$ 22,52 miliar, mengalami penurunan 6,60 persen jika dibandingkan dengan November 2024.
Sektor nonmigas menjadi motor penggerak utama dengan kontribusi sebesar US$ 244,75 miliar, atau naik 7,07 persen secara tahunan. Menariknya, dari sepuluh komoditas unggulan nonmigas, hampir semuanya menunjukkan grafik kenaikan. Lonjakan paling signifikan dialami oleh kelompok lemak serta minyak hewani/nabati yang tumbuh pesat hingga 26,24 persen (naik US$ 6,36 miliar). Di sisi lain, bahan bakar mineral menjadi satu-satunya komoditas utama yang merosot dengan penurunan tajam mencapai 20,12 persen atau berkurang US$ 7,26 miliar.
Jika ditinjau dari klasifikasi industri, sektor pengolahan tampil impresif dengan pertumbuhan sebesar 14,00 persen sepanjang sebelas bulan pertama tahun 2025. Hasil dari sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan bahkan mencatat kenaikan lebih tinggi, yakni mencapai 24,63 persen. Namun, capaian positif ini berbanding terbalik dengan sektor pertambangan dan kategori lainnya yang justru mengalami kontraksi atau penurunan sebesar 24,24 persen dibandingkan tahun 2024.
Secara geografis, Jawa Barat masih mengukuhkan posisinya sebagai provinsi penyumbang ekspor terbesar nasional dengan nilai US$ 35,45 miliar, memberikan kontribusi sebesar 13,82 persen. Posisi berikutnya ditempati oleh Jawa Timur yang menyumbang US$ 26,61 miliar atau 10,37 persen dari total ekspor. Melengkapi tiga besar, Kepulauan Riau turut memberikan andil signifikan sebesar 8,34 persen dengan nilai ekspor yang mencapai US$ 21,41 miliar.



