Jayapura, Malanesianews, – Sepanjang tahun 2025, aktivitas tektonik di Tanah Papua tercatat sangat aktif dengan total 5.141 kejadian gempa bumi yang tersebar di enam provinsi. Berdasarkan data dari Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura, mayoritas lindu yang terjadi berkekuatan kecil, di mana sebanyak 3.799 kejadian memiliki magnitudo di bawah 3,0. Sementara itu, untuk gempa dengan kekuatan antara 3,0 hingga 5,0 tercatat sebanyak 1.341 kali, dan hanya 18 kejadian yang kekuatannya melampaui magnitudo 5,0.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Jayapura, Herlambang Hudha, mengungkapkan bahwa dari ribuan getaran tersebut, terdapat dua peristiwa gempa signifikan yang menimbulkan dampak kerusakan fisik. Kedua gempa merusak tersebut berpusat di Kabupaten Sarmi, yakni pada 12 Agustus dengan kekuatan M 6,4 serta pada 16 Oktober yang mencapai M 6,6. Kedalaman gempa yang relatif dangkal di wilayah tenggara Sarmi menjadi faktor pemicu kerusakan bangunan di area terdampak.
Kondisi geografis Pulau Papua yang berada di kawasan dengan tingkat seismisitas sangat tinggi menjadikan wilayah ini sebagai daerah rawan bencana geologi. Herlambang menekankan bahwa masyarakat yang tersebar di 46 kabupaten/kota harus senantiasa memahami karakteristik lingkungan tempat tinggal mereka. Tingginya frekuensi gempa sepanjang tahun lalu menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana yang tidak dapat diprediksi waktu kejadiannya.
Menanggapi data statistik tersebut, BMKG mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan, tidak hanya terhadap guncangan utama, tetapi juga bahaya ikutan lainnya. Risiko seperti tsunami, tanah longsor, likuefaksi, hingga kegagalan struktur bangunan perlu diantisipasi melalui mitigasi yang tepat. Pemerintah daerah dan masyarakat diharapkan terus memperkuat langkah-langkah mitigasi guna meminimalkan risiko dampak di masa mendatang.



