Jakarta, Malanesianews, – Kementerian Kebudayaan RI secara resmi meluncurkan buku monumental berjudul “Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global” pada Minggu (14/12/2025). Buku tersebut tidak disusun oleh pemerintah, melainkan merupakan hasil kolaborasi dari 123 sejarawan yang berasal dari 34 perguruan tinggi di seluruh Indonesia, menjadikannya karya bersama yang merepresentasikan keragaman perspektif akademisi nasional. Proses penulisan menghasilkan sepuluh jilid buku yang merangkum perjalanan panjang bangsa Indonesia dari masa prasejarah hingga era Reformasi.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menjelaskan bahwa sepuluh jilid buku ini tidak dimaksudkan untuk menjadi karya sejarah yang utuh dan menyeluruh. Sebaliknya, buku ini berfungsi sebagai ringkasan atau highlight dari dinamika kebangsaan. Dalam acara peluncuran di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Fadli Zon mengungkapkan, “Kalau sejarah kita ditulis secara lengkap mungkin harusnya 100 jilid kalau mau ditulis secara lengkap. Jadi ini adalah highlight dari perjalanan.” Peluncuran ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian kegiatan menuju perayaan 80 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.
Sepuluh jilid buku ini dibagi berdasarkan periode sejarah yang signifikan. Dimulai dari Jilid 1: Akar Peradaban Nusantara, yang membahas fondasi awal dan perkembangan prasejarah, termasuk isu kedaulatan budaya seperti kembalinya fosil Java Man. Kemudian berlanjut melalui Jilid 2 dan 3 tentang interaksi global, Jilid 4 mengenai perjumpaan dengan Barat, Jilid 5 tentang terbentuknya Negara Kolonial, hingga Jilid 6 dan 7 yang fokus pada Pergerakan Kebangsaan dan Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan (1945-1950).
Rangkaian sejarah ini ditutup dengan pembahasan tentang konsolidasi negara pascakemerdekaan. Jilid 8 mengulas Konsolidasi Negara Bangsa dan kepemimpinan internasional (1950-1965), diikuti oleh Jilid 9 yang membahas Pembangunan dan Stabilitas Nasional Era Orde Baru (1967-1998). Terakhir, Jilid 10 merekam perjalanan Indonesia sejak Reformasi hingga proses penguatan demokrasi kontemporer (1998-2024). Fadli Zon menambahkan bahwa ke depan, Kementerian berencana melanjutkan penulisan sejarah tematik, termasuk kajian mendalam tentang kerajaan-kerajaan besar di Nusantara.



