Duka Sumatra: Ratusan Jiwa Melayang Akibat ‘Badai Ekologis’ dan Tambang, Alarm Merah untuk Timur Indonesia!

0
34

Jakarta, Malanesianews , – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah Sumatra (Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat) sejak Senin, 24 November 2025, kini telah memasuki hari keenam penanganan darurat. Tragedi ini diperparah oleh fenomena alam ekstrem berupa hujan badai dan cuaca ekstrem yang dipicu oleh adanya sirkulasi siklon/depresi tropis di sekitar Samudra Hindia, yang menyebabkan curah hujan luar biasa, bahkan mencapai lebih dari 400 \text{ mm} dalam dua hari. Kombinasi faktor cuaca yang dominan ini telah merenggut lebih dari 170 jiwa dan menyebabkan puluhan orang hilang.

Namun, para pakar dan aktivis lingkungan menegaskan bahwa faktor cuaca ekstrem ini menjadi begitu mematikan karena didukung oleh krisis ekologis yang diakibatkan ulah manusia. Hujan badai yang seharusnya diserap oleh hutan telah langsung menjadi arus air bah yang menghancurkan karena masifnya deforestasi dan aktivitas industri ekstraktif skala besar. Kehadiran kayu gelondongan dalam lumpur banjir merupakan bukti nyata bahwa hutan di kawasan hulu telah kehilangan fungsi vitalnya sebagai penyerap air akibat pembukaan lahan, termasuk oleh konsesi tambang dan perkebunan monokultur.

Tragedi Sumatra ini adalah alarm keras bagi seluruh Indonesia, khususnya kawasan timur seperti Papua, Maluku, dan Sulawesi, yang memiliki potensi tinggi terdampak cuaca ekstrem sekaligus menjadi sasaran industri ekstraktif. Pemerintah Pusat dan Daerah harus segera menindaklanjuti dengan audit total izin industri di wilayah hulu yang sensitif dan memastikan perusahaan, baik tambang maupun perkebunan, mematuhi Amdal secara ketat. Kerusakan lingkungan yang terjadi di Sumatra harus menjadi pelajaran untuk mencegah dampak buruk cuaca ekstrem di masa depan.

Fokus utama kini harus tetap pada upaya kemanusiaan, yakni pencarian korban dan pemulihan akses. Namun, dalam jangka panjang, tidak cukup hanya menyalahkan badai. Pemerintah perlu mengambil langkah drastis untuk merehabilitasi ekosistem, memperbaiki tata kelola ruang, dan memprioritaskan keselamatan masyarakat di atas keuntungan jangka pendek industri. Jangan sampai bencana serupa yang dipicu oleh kombinasi badai dan kerusakan alam kembali merenggut nyawa di wilayah Indonesia Timur.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini