Sentani, Malanesianews, – Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kampung Hinekombe, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, resmi memulai roda organisasi dengan meluncurkan program kerja perdana pada hari ini, Rabu (12/8/2026). Mengambil tempat di Kediaman Sekretaris PRNU, M. Hilmy Miftahuddin Tolok, momentum ini ditandai dengan pengajian rutin yang dihadiri oleh seluruh jajaran pengurus ranting.
Dalam arahannya, Ketua PRNU Kampung Hinekombe, Baharudin Farawowan, menegaskan bahwa titik awal pergerakan NU periode ini sengaja dimulai dengan semangat “kembali ke akar”. Kampung bukan lagi sekadar wilayah administratif, melainkan episentrum perubahan dan fondasi utama peradaban organisasi.
“Kami memilih kembali ke titik nol. Memulai segalanya dari akar rumput, dari kampung halaman kita sendiri. Untuk menyatukan gerak langkah ini, kami meluncurkan slogan ‘SentaNU’ (Sentani Aksi Nyata Nahdlatul Ulama) sebagai motor konsolidasi program kerja ke depan,” ujar Baharudin Farawowan.
Slogan SentaNU membawa tiga pilar utama yang diwujudkan dalam kehidupan kampung, yaitu Ilmu, Amal, dan Taqwa. Melalui tiga pilar ini, NU Kampung Hinekombe mengusung misi besar berupa gerakan muhasabah(refleksi dan evaluasi diri) berjenjang yang berakar dari tingkat bawah:
Muhasabah Diri di Akar Rumput: Menjadikan pengajian kampung sebagai ruang pembersihan niat bagi setiap pengurus agar tulus berkhidmat tanpa pamrih kepada umat.
Muhasabah Lingkungan Kampung: Memastikan kehadiran NU memberikan dampak sosial yang nyata bagi warga Sentani, merawat kerukunan, serta menjaga kelestarian alam dan kearifan lokal di sekitar kita.
Muhasabah Bangsa dari Ujung Timur: Menegaskan bahwa fondasi kekuatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebenarnya berada di kampung-kampung. Menjaga kedamaian dan toleransi di tingkat kampung adalah sumbangsih nyata warga NU Papua untuk keutuhan bangsa dan negara.
Pengurus NU Kampung Hinekombe berharap gerakan kembali ke akar ini dapat menyalakan semangat bagi seluruh kader NU di tingkat ranting lainnya di Kabupaten Jayapura. Perubahan besar bagi bangsa dan agama tidak harus menunggu dari pusat kota, melainkan tumbuh subur dari ketulusan khidmat masyarakat di tingkat kampung.



