AGUS BASAR SANDI TUTUP KONFERCAB KE-XVIII PMII KOTA JAYAPURA: Transformasi Gerakan & Kaderisasi Kunci Jawab Dinamika Papua

0
81

Jayapura, Malanesianews,  – Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Papua resmi menutup kegiatan Konferensi Cabang (Konfercab) ke-XVIII PMII Cabang Kota Jayapura yang berlangsung di Aula Kampus IAIN Fattahul Muluk Papua, Sabtu (23/5). Mengusung tema “Transformasi Gerakan: Mengokohkan Nilai Pergerakan di Tengah Dinamika Papua”, kegiatan ini menjadi momen strategis untuk menentukan arah kebijakan organisasi satu tahun ke depan sekaligus melantik kepemimpinan baru.

Dalam sambutan penutupnya, Sekretaris Umum PKC PMII Papua, Agus Basar Sandi, mengucapkan selamat kepada Ketua Umum dan jajaran pengurus yang telah terpilih. Ia berharap, dalam masa pengabdian satu tahun ke depan, kepemimpinan yang baru mampu melahirkan transformasi gerakan yang lebih maju, progresif, dan lebih baik dibandingkan periode sebelumnya. Menurutnya, keberhasilan mewujudkan perubahan tersebut tidak bisa dilakukan sendiri, melainkan membutuhkan kerja kolektif, sinergi, dan partisipasi aktif dari seluruh kader dan anggota PMII Kota Jayapura.

“Selamat bertugas bagi ketua umum terpilih. Semoga satu tahun ke depan menjadi masa kerja yang produktif dan melahirkan transformasi nyata. Ingatlah, untuk mendukung setiap langkah dan pergerakan yang kita canangkan, dibutuhkan kekuatan bersama, kerja kolektif seluruh elemen organisasi, dan persatuan barisan tanpa terkecuali,” tegas Agus Basar Sandi.

Kaderisasi Bukan Sekadar Administrasi, Tapi Pembentukan Karakter Kritis

Dalam arahannya, Agus menekankan bahwa transformasi gerakan yang dimaksud harus memfokuskan perhatian pada kemajuan organisasi secara mendasar, utamanya melalui pembenahan sistem kaderisasi. Ia menegaskan pandangan kritisnya bahwa kaderisasi di lingkungan PMII tidak boleh lagi dipahami hanya sebagai mekanisme administrasi keanggotaan atau sekadar pelatihan seremonial.

Secara hakiki dan krusial, kaderisasi adalah proses panjang dan sistematis untuk membentuk manusia unggul yang mampu berpikir kritis, memiliki kepekaan sosial yang tinggi, serta cakap bertindak dan mengambil keputusan di tengah realitas kehidupan yang semakin kompleks.

“Sebagai organisasi mahasiswa Islam terbesar di tanah ini, kita tidak boleh terlalu lama tenggelam dalam urusan internal semata, terjebak dalam ritus struktural, atau sibuk dengan kompetisi dan perebutan jabatan sesama internal. Itu akan membuat kita buntu. Fokus kita harus ke luar, ke masyarakat, dan ke pembenahan kualitas diri kader,” ujarnya.

PMII Harus Jadi Mitra Kritis & Strategis Pemerintah

Menyikapi kondisi Papua yang terus bergerak dinamis, khususnya Kota Jayapura sebagai pusat pemerintahan dan aktivitas masyarakat, Agus Basar Sandi menekankan pentingnya PMII membangun hubungan kemitraan yang baik, setara, dan konstruktif dengan para pemangku kepentingan, khususnya pemerintah daerah.

Menurutnya, kehadiran PMII sangat diperlukan untuk terlibat aktif mengawal kepentingan masyarakat. Di tengah beragam permasalahan yang ada, kader pergerakan memiliki tanggung jawab moral dan sejarah untuk ikut mengawasi setiap kebijakan yang diambil pemerintah, agar tetap berjalan pada rel yang benar dan senantiasa mengutamakan kesejahteraan serta kepentingan masyarakat Papua.

“Kita hadir bukan untuk menjadi penonton, bukan pula sekadar pelengkap seremonial. PMII harus menjadi mitra kritis sekaligus mitra strategis bagi pemerintah Kota Jayapura. Keberanian kita menyampaikan masukan adalah bentuk kontribusi nyata kita demi pembangunan yang berpihak pada rakyat,” tambahnya.

PKC PMII Papua juga menegaskan kesiapannya untuk selalu mendukung, menjembatani, dan memfasilitasi setiap pemikiran serta kreativitas baru yang lahir dari Cabang Kota Jayapura, selama hal itu berbasis pada program kerja yang nyata, terukur, dan bermanfaat.

“Merapatkan barisan untuk kemajuan PMII Papua adalah kepentingan besar kita bersama. Tidak ada tempat lagi bagi ego sektoral. Mari saling merangkul, bersatu kembali, dan bersama-sama mengibarkan panji-panji perjuangan untuk membantu masyarakat yang kita cintai ini,” seru Agus.

Beda Pilihan Biasa dalam Demokrasi, Jangan Sampai Bawa Perpecahan

Terkait proses demokrasi yang telah berlangsung selama Konfercab, Agus menilai kontestasi pemilihan ketua umum berjalan dalam koridor demokrasi yang sehat. Ia berpesan kepada seluruh kader agar menjadikan momentum ini sebagai sumber energi baru dan semangat baru. Perbedaan pilihan saat pemilihan, menurutnya, adalah hal yang lumrah dan wajar dalam demokrasi mahasiswa, dan tidak boleh dijadikan alasan untuk berpecah belah.

“Tahapan yang telah kita lewati adalah proses bersama, milik kita semua. Jangan sampai terjadi perpecahan hanya karena beda pilihan. Yang paling penting sekarang bukan lagi siapa yang menang atau kalah, tapi bagaimana langkah PMII selanjutnya pasca konfercab ini. Kita harus mampu melahirkan gagasan segar, kreativitas baru, dan memberikan masukan kritis yang membangun bagi kemajuan Kota Jayapura,” imbaunya.

Di akhir sambutannya, Agus Basar Sandi berharap Ketua Umum terpilih dapat bekerja keras menghadirkan dampak positif, baik bagi internal organisasi maupun bagi masyarakat luas. Keterbukaan ruang kolaborasi dengan berbagai Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP), elemen masyarakat, maupun pemerintah setempat, menjadi kunci agar PMII tetap relevan dan terus memberikan manfaat nyata bagi pembangunan di Kota Jayapura dan tanah Papua secara umum.