Monopoli Ekspor Tambang PT Danantara Sumberdaya Indonesia, Lapisan Birokrasi Baru Jadi Sorotan

0
49

Jakarta, Malanesianews, – Di tengah tren positif harga komoditas global, sektor pertambangan mineral dan batu bara (minerba) nasional justru dihadapkan pada guncangan ketidakpastian regulasi. Langkah pemerintah mendirikan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI)—badan usaha tunggal yang diamanatkan mengendalikan ekspor komoditas strategis nasional secara bertahap mulai 1 September 2026—langsung direspons negatif oleh pasar modal. Dalam hitungan hari setelah kabar ini berembus, indeks IDX Energy dan IDX Basic Materials merosot tajam masing-masing sebesar 9,23% dan 11,52%, mencerminkan tingginya sensitivitas investor terhadap perubahan peta jalan tata niaga eksploitasi alam ini.

Meskipun pada fase awal eksportir masih diizinkan bertransaksi langsung dengan pembeli luar negeri, kewajiban pemrosesan seluruh dokumentasi melalui DSI dinilai memicu risiko sistemik bagi korporasi. Samuel Sekuritas Indonesia menggarisbawahi bahwa kehadiran institusi penengah ini berpotensi menggerus margin laba emiten akibat berkurangnya fleksibilitas penentuan harga jual rata-rata (ASP) dan potensi kerugian selisih kurs akibat kewajiban transaksi menggunakan mata uang rupiah. Selain itu, munculnya lapisan birokrasi baru dikhawatirkan memperpanjang waktu tunggu (waiting time) pengapalan yang berujung pada pembengkakan biaya operasional (high-cost economy).

Menyikapi tekanan regulasi yang beruntun—setelah sebelumnya sempat muncul wacana revisi tarif royalti mineral pada PP 19/2025—sejumlah emiten pelat merah memilih bersikap patuh sekaligus defensif. PT Timah Tbk (TINS) dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menyatakan komitmennya untuk tetap adaptif memastikan keberlanjutan produksi yang efisien sembari mencermati regulasi turunan dari DSI. Di sisi lain, peta kekuatan pasar menunjukkan bahwa emiten dengan eksposur pasar domestik yang tinggi seperti PTBA (50%), PT Bumi Resources Tbk (BUMI/38%), dan PT Indika Energy Tbk (INDY/38%) diproyeksikan jauh lebih tahan banting dalam menghadapi transisi monopoli ekspor ini.

Secara makro, para analis pasar modal menilai kekhawatiran pelaku pasar sangat wajar mengingat ketidakpastian arah kebijakan cenderung memicu keluarnya modal asing (foreign outflow) dari sektor komoditas strategis. Pemerintah memikul tanggung jawab besar untuk membuktikan bahwa badan baru ini mampu menutup kebocoran devisa negara tanpa mengorbankan iklim usaha. Kendati demikian, dalam jangka menengah dan panjang, saham minerba dengan fundamental kokoh, biaya produksi rendah, dan arus kas sehat—seperti PTBA dan TINS—dianggap masih memiliki daya tarik investasi yang layak dikoleksi seiring tingginya permintaan energi dunia.