Kementerian PU Targetkan Penuntasan Jalan Trans-Papua Jayapura-Wamena pada Akhir 2026

0
26

Jayapura, Malanesianews, – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Papua memastikan bahwa pembangunan Jalan Trans-Papua, khususnya ruas Jayapura-Wamena segmen Mamberamo-Elelim, ditargetkan rampung pada akhir tahun 2026. Proyek sepanjang 50,14 kilometer ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk menyambungkan akses darat di delapan kabupaten di wilayah Papua Pegunungan. Dengan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), pembangunan ini difokuskan pada peningkatan kualitas jalan dari tanah menjadi aspal guna mendukung kemantapan jalur logistik utama di Bumi Cendrawasih.

Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyatakan bahwa penyelesaian ruas Jayapura-Wamena pada semester II tahun 2026 menjadi prioritas utama untuk menekan disparitas harga kebutuhan pokok yang selama ini sangat tinggi di wilayah pegunungan. Proyek dengan nilai investasi mencapai Rp3,3 triliun ini melibatkan konsorsium PT Hutama Mambelim Trans Papua sebagai badan usaha pelaksana. Selain pengaspalan jalan, konstruksi ini juga mencakup pembangunan 16 jembatan baru dan fasilitas jembatan timbang untuk memastikan keamanan serta keawetan jalan dari kendaraan bermuatan lebih (overload).

Tantangan utama dalam percepatan proyek ini tetap berpusat pada kondisi topografi ekstrem dan faktor keamanan di lapangan. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah memperkuat kolaborasi dengan TNI dan Polri guna memberikan perlindungan bagi para pekerja serta memastikan alat berat dapat beroperasi secara optimal di zona-zona rawan. Dukungan keamanan ini dianggap krusial agar target operasional selama 15 tahun masa layanan yang direncanakan dapat tercapai tanpa hambatan teknis maupun non-teknis yang berarti.

Secara keseluruhan, rampungnya jalur Trans-Papua di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto diharapkan menjadi tonggak sejarah baru bagi konektivitas di Indonesia Timur. Dengan waktu tempuh yang semakin singkat, misalnya antara Nabire dan Manokwari yang kini bisa dipangkas hingga puluhan jam, potensi ekonomi lokal di sektor pertanian dan perdagangan diprediksi akan tumbuh pesat. Infrastruktur ini bukan sekadar jalan raya, melainkan urat nadi kehidupan yang akan menyatukan wilayah terisolasi dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi nasional.